depresiasi
lighthousedistrict.org -Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi sejak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu gejolak global. Meski demikian, pelemahan rupiah dinilai masih lebih terkendali dibandingkan mata uang negara lain di kawasan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah terjadi karena penguatan dolar Amerika Serikat secara global. Kondisi ini biasanya muncul saat ketegangan geopolitik meningkat dan investor mencari aset yang dianggap aman.
Menurut Purbaya, pelemahan rupiah masih berada dalam batas moderat. Pergerakan tersebut juga relatif lebih baik dibandingkan mata uang negara-negara dengan kondisi ekonomi serupa.
Ia menyebut rupiah terdepresiasi sekitar 0,3 persen secara month-to-date sejak konflik memanas. Angka tersebut dihitung sejak perang di kawasan Timur Tengah mulai berdampak pada pasar keuangan global.
“Rupiah terdepresiasi sebesar 0,3 persen month-to-date sejak perang dimulai hingga hari ini,” kata Purbaya di Jakarta, Rabu.
Ia menilai kinerja rupiah masih lebih stabil dibandingkan mata uang regional lainnya. Beberapa negara di Asia Tenggara mengalami pelemahan yang lebih besar dalam periode yang sama.
Baca juga:”Menkeu Sebut Inflasi Februari 2026 Hanya 2,59 Persen Tanpa Diskon Listrik”
Pemerintah Nilai Rupiah Lebih Tahan Tekanan Global Dibanding Mata Uang Regional
Pelemahan rupiah menjadi perhatian publik di tengah gejolak ekonomi global. Namun pemerintah menilai depresiasi rupiah masih relatif terkendali dibandingkan mata uang negara lain di kawasan Asia.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa sejumlah mata uang regional mengalami tekanan lebih besar. Ia menyebut pelemahan ini berkaitan dengan penguatan dolar Amerika Serikat dan meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Data terbaru menunjukkan peso Filipina melemah sekitar 1,4 persen secara month-to-date. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pelemahan rupiah dalam periode yang sama. Kondisi ini menunjukkan tekanan yang lebih besar pada beberapa mata uang negara berkembang.
Sementara itu, dolar Singapura mencatat depresiasi sekitar 0,3 persen month-to-date. Nilai tersebut sebanding dengan pelemahan rupiah pada periode yang sama.
Menurut Purbaya, perbandingan ini menunjukkan bahwa posisi rupiah masih cukup stabil. Stabilitas tersebut mencerminkan ketahanan sektor eksternal ekonomi Indonesia.
Rupiah Bergerak di Kisaran Rp16.800–Rp16.950 per Dolar AS
Pergerakan rupiah masih dipengaruhi dinamika pasar global. Penurunan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor yang membantu penguatan rupiah dalam beberapa waktu terakhir. Namun tekanan eksternal tetap membayangi nilai tukar tersebut.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penurunan harga minyak memberi sentimen positif bagi rupiah. Harga energi yang lebih rendah dapat mengurangi tekanan pada neraca perdagangan dan biaya impor energi.
Menurut Lukman, kondisi tersebut membantu menahan pelemahan rupiah di tengah ketidakpastian global. Meski begitu, konflik geopolitik yang masih berlangsung tetap menjadi faktor risiko bagi pasar keuangan.
Ia menilai perang yang terus berlanjut dapat meningkatkan volatilitas pasar. Situasi ini biasanya mendorong investor global untuk beralih ke aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar Amerika Serikat.
“Penguatan rupiah terjadi seiring penurunan harga minyak yang cukup signifikan,” kata Lukman saat dihubungi dari Jakarta, Rabu.
Meski ada sentimen positif dari harga minyak, konflik yang masih berlangsung tetap memberi tekanan. Ketegangan geopolitik sering memicu ketidakpastian pada pasar mata uang negara berkembang.
Baca juga:“Rupiah Bergerak Fluktuatif Seiring Perkembangan Konflik di Timur Tengah”
