harga
lighthousedistrict.org -Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak melemah pada perdagangan Senin, 9 Maret. Tekanan datang dari lonjakan harga minyak mentah global. Kenaikan tersebut memicu kekhawatiran baru di pasar keuangan.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menyampaikan proyeksi tersebut. Ia menilai sentimen eksternal masih mendominasi pergerakan pasar saham Indonesia. Salah satu faktor utama adalah melonjaknya harga minyak dunia.
Harga minyak mentah global dilaporkan menembus lebih dari 100 dolar Amerika Serikat per barel. Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Ketidakpastian tersebut membuat pelaku pasar meningkatkan kewaspadaan.
Menurut Nico, kondisi tersebut dapat memicu tekanan pada pasar saham regional. Investor cenderung bersikap hati-hati ketika harga energi melonjak tajam. Situasi ini sering berdampak pada arus modal dan sentimen risiko global.
“Berdasarkan analisis teknikal, IHSG berpotensi melemah terbatas,” ujar Nico dalam kajian risetnya di Jakarta. Ia memperkirakan indeks bergerak pada kisaran support 7.460 dan resistance 7.860. Level tersebut menjadi acuan bagi investor dalam memantau pergerakan pasar.
Baca juga:“Rupiah Makin Melemah! Hari Ini Tembus Rp17.001 per Dolar AS”
Konflik Timur Tengah Dorong Harga Minyak Dunia Menembus 109 Dolar
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu lonjakan harga minyak dunia. Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat meningkatkan kekhawatiran pasar energi global. Situasi ini menimbulkan risiko gangguan pasokan minyak internasional.
Laporan terbaru menyebut Iran melancarkan serangan balistik dan drone ke wilayah Israel. Serangan tersebut juga menargetkan sejumlah aset militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Beberapa pangkalan militer dilaporkan berada dalam jangkauan serangan tersebut.
Eskalasi konflik meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas perdagangan energi global. Timur Tengah merupakan salah satu wilayah penghasil minyak terbesar di dunia. Gangguan keamanan di kawasan tersebut dapat memengaruhi distribusi energi internasional.
Perhatian pasar juga tertuju pada Selat Hormuz. Jalur pelayaran ini menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dunia. Banyak negara penghasil energi di Timur Tengah menggunakan jalur ini untuk ekspor minyak.
Sejumlah analis menyebut Selat Hormuz menyalurkan sekitar seperlima perdagangan minyak global. Jika jalur ini terganggu, pasokan energi dunia dapat terdampak signifikan. Risiko tersebut menjadi salah satu pemicu lonjakan harga minyak.
Tekanan Global Dan Kebijakan Fiskal Berpotensi Pengaruhi Pergerakan IHSG
Pasar saham Indonesia menghadapi tekanan dari faktor global dan domestik. Lonjakan harga energi serta kebijakan fiskal pemerintah menjadi perhatian investor. Kondisi ini berpotensi memengaruhi arah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Pemerintah disebut sedang mempertimbangkan kebijakan efisiensi belanja negara. Langkah ini bertujuan menjaga disiplin fiskal dan mengendalikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kebijakan tersebut juga dapat menahan tekanan terhadap keuangan negara.
Namun, kebijakan efisiensi memiliki konsekuensi terhadap aktivitas ekonomi. Penundaan sejumlah proyek infrastruktur dapat memperlambat realisasi pembangunan. Dampaknya juga bisa dirasakan sektor konstruksi dan industri pendukung lainnya.
Sektor konstruksi selama ini menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi domestik. Ketika proyek pembangunan tertunda, aktivitas bisnis pada sektor tersebut dapat menurun. Kondisi ini berpotensi memengaruhi sentimen pasar saham.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai terdapat risiko tambahan dari kebijakan energi. Salah satunya berkaitan dengan kemungkinan penyesuaian harga bahan bakar minyak bersubsidi.
Menurut Nico, kenaikan harga BBM bersubsidi dapat menimbulkan dampak ekonomi yang luas. Biaya transportasi dan logistik berpotensi meningkat. Kondisi tersebut dapat memicu tekanan terhadap inflasi nasional.
“Apabila pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi, dampaknya bisa memicu kenaikan inflasi,” ujar Nico dalam kajian risetnya. Ia menambahkan bahwa daya beli masyarakat juga dapat tertekan.
Baca juga:“IHSG Diprediksi Melemah Seiring Melonjaknya Harga Minyak Global”
