KESDM: Pertamina & Medco Mulai Serap Minyak Sumur Rakyat
lighthousedistrict -Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan program sumur rakyat telah berlangsung. Lokasinya di Sumatera Selatan (Sumsel) dan Jawa Tengah (Jateng). Produksi minyak dari sumur tersebut sudah diserap oleh dua perusahaan. “Sementara ini Pertamina dan Medco,” kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Laode Sulaeman di Kantor Kementerian ESDM.
Minyak yang diproduksi sumur rakyat dibeli oleh Pertamina dan MedcoEnergi. Alasannya karena lapangan milik kedua perusahaan itu bersinggungan langsung dengan lokasi sumur rakyat. Masyarakat di Sumsel dan Jateng saat ini sangat antusias. Mereka giat memproduksi minyak. Namun Laode mengakui belum menghitung total produksi sumur rakyat per hari.
Data dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menunjukkan potensi besar. Sekitar 45 ribu sumur rakyat terdata. Jika setiap sumur menghasilkan satu barel per hari, potensi tambahan mencapai 45 ribu barel minyak per hari (bph). Pemerintah menargetkan lifting nasional 610 ribu bph. “Jadi produksi sehari 100–200 barel pun akan kami kejar,” tegas Laode.
Regulasi yang mendasari adalah Peraturan Menteri ESDM Nomor 14 Tahun 2025. Aturan ini melegalkan pengelolaan sumur rakyat. Tujuannya meningkatkan produksi migas nasional sekaligus memberdayakan UMKM, koperasi, dan BUMD setempat. Praktik kerja sama sudah berjalan sejak April 2026. PT MedcoEnergi menandatangani perjanjian dengan PT Keban Berkah Energi (KBE), sebuah UMKM di Sumsel. KBE menyalurkan minyak mentah perdana ke Medco E&P Grissik Ltd. di Musi Banyuasin. Kualitas minyak sangat baik dengan kadar air dan endapan (BS&W) hanya 0,1 persen.
Baca juga:Harga LPG 3 Kg Dipastikan Tidak Naik Meski Rupiah Melemah
Pertamina dan Medco Serap Minyak Sumur Rakyat, Harga 80% ICP
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan program sumur rakyat telah berjalan. Lokasi program ini ada di Sumatera Selatan (Sumsel) dan Jawa Tengah (Jateng). Hasil produksinya sudah diserap oleh Pertamina dan MedcoEnergi. “Sementara ini Pertamina dan Medco,” kata Dirjen Migas Laode Sulaeman di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Penyerapan ini terjadi karena lokasi sumur rakyat bersinggungan langsung dengan wilayah kerja kedua perusahaan tersebut. Laode mengakui masyarakat di Sumsel dan Jateng sangat antusias memproduksi minyak. Namun ia belum menghitung total produksi harian dari sumur-sumur tersebut. “Kita mengejar 610 ribu barel per hari. Jadi, (produksi) sehari 100–200 barel pun akan kami kejar,” tegasnya.
Capaian ini merupakan realisasi dari Peraturan Menteri ESDM Nomor 14 Tahun 2025. Aturan ini mengatur kerja sama pengelolaan wilayah kerja untuk meningkatkan produksi migas. Fokusnya pada reaktivasi sumur tua dan pengolahan sumur masyarakat secara legal.
Harga 80% ICP dan Peran Koperasi BME
Hasil minyak sumur rakyat dibeli oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) seperti Pertamina dan MedcoEnergi. Harganya ditetapkan sebesar 80 persen dari harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP). Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan skema ini memberikan keuntungan layak bagi masyarakat, sekaligus memastikan pengawasan negara. Sebelumnya, harga jual minyak rakyat hanya 70 persen dari ICP.
Koperasi Blora Migas Energi Kirim Minyak Mentah Perdana ke Pertamina, Langkah Awal Dukung Target Lifting Nasional
Koperasi Blora Migas Energi (BME) memulai pengiriman minyak mentah ke Pertamina. Langkah awal ini sangat baik. Hal itu diharapkan bisa membantu peningkatan lifting minyak nasional. Juga mendukung kemandirian energi Indonesia.
Pengiriman sampel minyak dari Desa Plantungan dilakukan pada Senin (11/5). Koperasi menggunakan empat unit truk tangki. Setiap truk berkapasitas 5.000 liter. Total minyak yang dikirim sekitar 20.000 liter.
Seluruh pengiriman minyak mentah wajib melalui pengujian kualitas. PT Pertamina melakukan pengecekan sebelum minyak diterima. Salah satu syarat utamanya adalah kadar air maksimal 0,5 persen. Ketentuan ini sesuai perjanjian kerja sama.
Ketua Koperasi BME Sutrisno mengungkapkan optimisme. “Ini awal yang baik. Kami akan terus tingkatkan produksi,” ujarnya. Koperasi BME membawahi sekitar 1.600 titik sumur rakyat. Sumur tersebut tersebar di empat kecamatan: Blora, Japah, Ngawen, dan Kunduran. Potensi produksi diperkirakan 10.000 liter minyak mentah per hari.
Program sumur rakyat ini merupakan realisasi Peraturan Menteri ESDM Nomor 14 Tahun 2025. Minyak hasil sumur rakyat dibeli KKKS dengan harga 80 persen dari ICP. Sebelumnya, sampel minyak dari Desa Botoreco dinyatakan memenuhi standar. Pertamina memberikan apresiasi atas kualitasnya.
Ke depan, koperasi diharapkan mampu mengirim minyak secara rutin. Pemerintah menargetkan lifting nasional 610.000 barel per hari. Kontribusi sumur rakyat, meski kecil, sangat berarti untuk kemandirian energi. Dengan semangat gotong royong, Blora dan daerah lain siap menjadi lumbung energi rakyat.
Baca juga:RI Lanjutkan Impor Minyak Rusia di Tengah Ancaman Sanksi Amerika Serikat
