Lapas Ciangir Kembangkan Budidaya Ayam Petelur untuk Dukung Ketahanan Pangan
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Ciangir, Banten, mengembangkan program budidaya ayam petelur yang melibatkan warga binaan pemasyarakatan (WBP). Program tersebut kini mampu menghasilkan sekitar 860 kilogram telur setiap hari.
Produksi telur dari peternakan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan di lingkungan lapas. Selain itu, sebagian hasil produksi juga dipasarkan ke sejumlah wilayah di Tangerang dan Jakarta, termasuk untuk kebutuhan sektor perhotelan.
Kepala Lapas Kelas II B Ciangir Soesanto Poedji Djatmiko mengatakan program budidaya ayam petelur menjadi salah satu upaya menciptakan kemandirian pangan sekaligus memberikan keterampilan kerja bagi warga binaan.
“Kami juga sudah ada kerja sama untuk memasok telur ayam ke perhotelan,” kata Soesanto di Lapas Ciangir, Kamis.
Budidaya Ayam Petelur Libatkan Warga Binaan Lapas Ciangir
Soesanto menjelaskan, program budidaya ayam petelur tersebut masih tergolong baru karena belum berjalan selama satu tahun. Namun, pengembangannya telah menunjukkan hasil yang signifikan.
Saat ini, Lapas Ciangir memiliki tiga rumah budidaya ayam. Setiap rumah terdiri atas tiga kandang dengan kapasitas sekitar 35 ribu ekor ayam.
Ke depan, kapasitas peternakan akan terus ditingkatkan hingga mencapai 60 ribu ekor ayam. Penambahan populasi ayam diharapkan mampu meningkatkan produksi telur sekaligus memperluas pemasaran hasil peternakan.
Dalam operasionalnya, setiap kandang dikelola oleh satu warga binaan. Mereka bertugas mengatur pemberian pakan, menjaga kondisi ayam, hingga melakukan proses panen telur.
Warga binaan yang terlibat dalam program tersebut merupakan peserta asimilasi di Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Lapas Ciangir. Mereka telah melalui proses asesmen dari Balai Pemasyarakatan (Bapas) Ciangir sebelum mendapatkan kesempatan mengikuti kegiatan produktif.
Saat ini, Lapas Ciangir dihuni sekitar 50 warga binaan. Jumlah tersebut akan bertambah menjadi 70 orang setelah adanya tambahan penghuni baru.
baca juga: Otto: Kepadatan lapas tak bisa dilihat sebagai keterbatasan kapasitas
Program Ketahanan Pangan Lapas Ciangir Dikembangkan di Berbagai Sektor
Selain budidaya ayam petelur, Lapas Ciangir juga menjalankan berbagai kegiatan ketahanan pangan lain. Program tersebut mencakup peternakan domba, sapi, ayam kampung, serta budidaya ikan.
Pengembangan peternakan domba menjadi salah satu contoh keberhasilan program tersebut. Awalnya, Lapas Ciangir hanya memiliki 20 ekor domba.
Setelah berjalan sekitar 1,5 tahun, jumlah domba berkembang menjadi 85 ekor. Bahkan, sebanyak 25 ekor domba berhasil dipasarkan saat momentum Idul Adha kepada pedagang hewan kurban.
“Domba-domba ini saat Idul Adha juga kami pasarkan ke pedagang hewan kurban. Bahkan ada yang datang langsung ke kami,” ujar Soesanto.
Di sektor pertanian, Lapas Ciangir juga mengembangkan berbagai jenis tanaman seperti pakcoy, kale, timun, terong, hingga padi. Kegiatan pertanian tersebut memanfaatkan lahan seluas sekitar 8 hektare dari total 23 hektare lahan yang dimiliki lapas.
Pengelolaan sektor peternakan dan pertanian ini menjadi bagian dari upaya memberikan pembinaan berbasis keterampilan kepada warga binaan. Mereka tidak hanya menjalani masa pembinaan, tetapi juga mendapatkan pengalaman yang dapat dimanfaatkan setelah kembali ke masyarakat.
Warga Binaan Mendapat Keterampilan dan Dukungan Ekonomi
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Banten Lili mengatakan warga binaan yang ditempatkan di Lapas Ciangir merupakan kelompok berisiko rendah atau minimum security.
Mereka berasal dari sejumlah lapas di wilayah Banten dan Jakarta yang telah menjalani setengah masa pidana, memiliki perilaku baik, serta memenuhi persyaratan pembinaan.
Menurut Lili, keterlibatan warga binaan dalam program ketahanan pangan sejalan dengan program pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Kegiatan tersebut juga mendukung program akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto.
“Mereka selain dilatih keterampilan beternak dan pertanian, mereka juga mendapatkan premi,” kata Lili.
Salah satu warga binaan peserta program, Mukhriji (21), mengaku mendapatkan manfaat dari pelatihan yang diberikan selama mengikuti kegiatan asimilasi di Lapas Ciangir.
Warga binaan asal Tangerang tersebut memilih mengikuti pelatihan peternakan domba karena ingin menerapkan ilmu yang diperoleh setelah bebas nanti.
“Saya pilih dilatih di peternakan domba, karena kebetulan di kampung asal saya ada peternakan domba. Jadi rencananya ilmu ini mau saya gunakan setelah bebas nanti,” ujar Mukhriji.
Selain memperoleh keterampilan, Mukhriji juga mendapatkan premi sekitar Rp800 ribu setiap bulan. Dana tersebut digunakan sebagai tabungan untuk bekal setelah bebas serta memenuhi kebutuhan sehari-hari selama berada di lapas.
Program ketahanan pangan di Lapas Ciangir menunjukkan bahwa pembinaan warga binaan dapat diarahkan pada kegiatan produktif yang memiliki nilai ekonomi. Melalui pengembangan peternakan dan pertanian, lapas tidak hanya mendukung kebutuhan pangan internal, tetapi juga membuka peluang bagi warga binaan untuk memiliki keterampilan mandiri setelah menyelesaikan masa pidana.
baca juga: Trump Tak Mau Lagi Berurusan dengan Spanyol: Hentikan Semua Perdagangan
