Wamentan Pastikan Stok Beras Aman Hadapi Kemarau
lighthousedistrict -Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono memastikan stok beras nasional dalam kondisi aman menghadapi musim kemarau yang diprediksi lebih kering dan panjang akibat fenomena El Nino pada 2026. Pernyataan itu disampaikan dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen,
Sudaryono, yang juga dikenal dengan sapaan Mas Dar, melaporkan bahwa stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog per 18 Mei 2026 mencapai 5,37 juta ton [1†L6-L8]. Wamentan menyebut angka ini sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia, sekaligus membuktikan fundamental ketahanan pangan yang kokoh di tengah ancaman perubahan iklim dan konflik global.
Stok yang melimpah ini ditopang oleh keberhasilan penyerapan hasil panen dalam negeri. Sepanjang periode Januari hingga 18 Mei 2026, Bulog telah merealisasikan pengadaan gabah/beras sebanyak 2,8 juta ton, atau sekitar 70 persen dari target penyerapan tahun 2026 yang sebesar 4 juta ton. Progres ini dinilai positif dan mencerminkan naiknya produksi padi nasional. Pemerintah juga telah menerbitkan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2026 untuk mengatur pengadaan dan pengelolaan gabah dalam negeri, dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani sebesar Rp6.500 per kilogram.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras nasional tahun 2025 mencapai 34,69 juta ton, meningkat 4,07 juta ton atau 13,29 persen dibandingkan tahun 2024. Angka tersebut menunjukkan bahwa Indonesia telah mencapai status swasembada beras dalam waktu relatif singkat. Keberhasilan ini merupakan buah dari kerja kolektif, termasuk peran serta para petani di seluruh sentra produksi pangan.
Meskipun stok aman, pemerintah tidak lengah. Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau 2026 diprakirakan berlangsung lebih kering dari biasanya dengan puncak pada Agustus, sehingga berpotensi mengganggu produksi padi.
Baca juga:IHSG Melemah saat Pasar Bersikap “Wait and See” Kebijakan BI
Serapan 2,8 Juta Ton dalam 4,5 Bulan
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono memastikan cadangan beras nasional aman menghadapi musim kemarau akibat El Nino. Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog kini mencapai 5,37 juta ton. Angka ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. “Ini stok tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia,” ujar Sudaryono dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR, Selasa (19/5/2026).
Selama periode Januari hingga 18 Mei 2026, serapan beras nasional mencapai 2,8 juta ton. Jumlah itu setara 70 persen dari target serapan tahun 2026 sebesar 4 juta ton. Bulog menyerap gabah langsung dari petani di sentra produksi pangan. Produksi beras nasional tahun 2025 tercatat 34,69 juta ton, naik 13,29 persen atau 4,07 juta ton dibanding 2024.
Pemerintah menerbitkan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2026. Aturan ini mengatur pengadaan dan pengelolaan gabah dalam negeri. Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani ditetapkan Rp6.500 per kilogram.
Meski stok melimpah, pemerintah mewaspadai ancaman musim kemarau panjang 2026. Berdasarkan prediksi BMKG, musim kemarau mulai terjadi sejak April di Nusa Tenggara. Puncak kemarau diprakirakan pada Agustus dan berpotensi mengganggu produksi padi. Dengan stok 5,37 juta ton, Indonesia mampu menjaga pasokan dan stabilitas harga. “Ketahanan pangan Indonesia semakin kuat di tengah tantangan global,” tegas Sudaryono.
Tembus Target 4 Juta Ton, Potensi Panen Mei–Juni Capai 5,22 Juta Ton
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyatakan optimisme tinggi. Target serapan beras nasional sebesar 4 juta ton tahun ini dapat tercapai. Pasalnya, potensi panen dalam beberapa bulan ke depan masih sangat tinggi. Pada Mei 2026, potensi panen diperkirakan mencapai 929 ribu hektare. Luas itu setara dengan 2,75 juta ton beras. Sedangkan pada Juni 2026, potensi panen sekitar 841 ribu hektare. Angka itu setara dengan 2,47 juta ton beras. Total potensi panen dua bulan saja mencapai 5,22 juta ton beras. “Serapan beras Januari hingga 18 Mei mencapai 2,8 juta ton. Stok nasional mencapai 5,37 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah,” ujar Sudaryono di Kompleks Parlemen, Selasa (19/5/2026).
Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi, mengapresiasi langkah pemerintah. Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang melampaui 5 juta ton menunjukkan kinerja kuat. “Pemerintah semakin kokoh dalam menjaga stabilitas pangan dan harga gabah petani,” ujar Titiek, sapaan akrabnya. Namun DPR mengingatkan pemerintah tetap waspada. Ancaman krisis pangan global masih nyata. Perubahan iklim, konflik geopolitik, dan gangguan perdagangan internasional bisa sewaktu-waktu mengganggu pasokan.
Pemerintah telah menerbitkan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2026. Aturan ini mengatur pengadaan gabah dalam negeri hingga 2029. Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani ditetapkan Rp6.500 per kilogram. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 lebih kering dari biasanya dengan puncak pada Agustus.
Baca juga:Rupiah Berpotensi Menguat di Tengah Penundaan Serangan AS ke Iran
