Wamentrans Perjuangkan Pupuk Subsidi Petani Karet
lighthousedistrict -Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, menyatakan kesiapannya memperjuangkan pupuk subsidi. Targetnya adalah para petani karet nasional. Sebanyak 90 persen petani karet adalah petani rakyat. Lahan yang mereka garap juga milik rakyat.
“Jika dari sisi fiskal dan moneter pemerintah mencukupi, kita akan berjuang. Para petani rakyat juga harus mendapat pupuk subsidi,” ujar Viva Yoga di Desa Sebuntal, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Sabtu (23/5/2026). Saat ini, karet belum termasuk komoditas penerima subsidi pupuk. Keterbatasan dana pemerintah menjadi kendala utama. Komoditas yang mendapat subsidi pupuk adalah padi, jagung, dan singkong.
“Tapi upaya memperjuangkan agar komoditas karet juga bisa mendapat subsidi pupuk adalah langkah yang tepat,” katanya. Data Kementerian Pertanian menunjukkan luas perkebunan karet rakyat mencapai 3,6 juta hektare pada 2025. Produksi karet alam Indonesia mencapai 3,1 juta ton per tahun, didominasi oleh kebun rakyat. Pupuk subsidi sangat krusial karena harga pupuk nonsubsidi naik hingga 40 persen akibat gejolak global.
Viva Yoga berjanji akan mengusulkan kebijakan ini dalam rapat koordinasi lintas kementerian. Ia optimistis pemerintah dapat mengalokasikan anggaran untuk pupuk karet pada APBN 2027. Dengan subsidi, produktivitas karet rakyat diharapkan meningkat. Kesejahteraan petani di daerah seperti Kalimantan Timur pun ikut terangkat. Langkah ini menjadi bukti keberpihakan negara pada petani kecil.
Baca juga:IHSG Ditutup Menguat Ditopang Rebound Sektor Energi dan Basic Materials
Target Salip Thailand di Ekspor Dunia
Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, berkomitmen memperjuangkan pupuk subsidi. Sasaran utamanya adalah para petani karet di Indonesia. Sekitar 90 persen petani karet adalah petani rakyat. Lahan yang digarap juga milik rakyat. Viva Yoga menyampaikan hal ini di Desa Sebuntal, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
“Jika dari sisi fiskal dan moneter mencukupi, kita akan berjuang. Petani rakyat juga harus mendapat pupuk subsidi,” ujarnya. Saat ini, karet belum termasuk komoditas penerima subsidi pupuk. Keterbatasan dana pemerintah jadi kendala. Komoditas yang mendapat subsidi adalah padi, jagung, dan singkong. Namun Viva Yoga menilai langkah memperjuangkan karet adalah tindakan tepat.
Ia optimistis Indonesia bisa menyalip Thailand. Thailand saat ini menjadi eksportir karet terbesar dunia. “Produktivitas karet Indonesia akan semakin tinggi. Jika ada replanting (peremajaan), bantuan pupuk, penghilangan hama penyakit, dan teknik penyadapan lebih baik. Hasil lateks akan lebih banyak,” katanya.
Petani karet berkontribusi besar. Mereka memproduksi bahan baku ban kendaraan. Manfaatnya dirasakan masyarakat Indonesia dan dunia. Data Kementerian Pertanian menunjukkan luas perkebunan karet rakyat mencapai 3,6 juta hektare (2025). Produksi karet alam Indonesia sekitar 3,1 juta ton per tahun. Namun produktivitas per hektare masih di bawah Thailand. Subsidi pupuk dapat meningkatkan hasil hingga 30 persen.
Harga pupuk nonsubsidi naik 40 persen akibat gejolak global. Petani kecil kesulitan mengakses pupuk. Akibatnya, produksi lateks menurun. Indonesia berpotensi kehilangan pangsa pasar.
Viva Yoga berjanji mengusulkan kebijakan ini dalam rapat koordinasi. Targetnya anggaran subsidi pupuk untuk karet dimasukkan dalam APBN 2027. Dengan subsidi, produktivitas meningkat. Kesejahteraan petani di Kalimantan Timur dan daerah lain ikut terangkat. Indonesia diharapkan merebut posisi eksportir karet nomor satu dunia. Langkah ini bukti keberpihakan negara pada petani kecil.
Tingkatkan Produksi dan Pendapatan
Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, berkomitmen memperjuangkan pupuk subsidi. Sasaran utamanya adalah petani karet rakyat. Sebanyak 90 persen petani karet adalah rakyat kecil. Lahan yang digarap juga milik rakyat. Viva Yoga menyampaikan hal ini di Desa Sebuntal, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
“Kita akan berupaya memperjuangkan petani karet. Gerakan Nasional (Gernas) Karet harus dimaksimalkan kembali. Harus ada alokasi untuk membantu petani karet rakyat. Agar mereka bisa meningkatkan produksi. Juga ada jaminan pendapatan. Serta pelatihan teknologi penyadapan yang baik. Tujuannya menghasilkan lateks lebih banyak,” kata Viva Yoga.
Saat ini karet belum mendapat subsidi pupuk. Dana pemerintah terbatas. Subsidi hanya untuk padi, jagung, dan singkong. Namun Viva Yoga optimistis Indonesia bisa menyalip Thailand. Thailand kini eksportir karet terbesar dunia. Dengan subsidi pupuk, peremajaan kebun, pengendalian hama, dan teknik sadap modern, produktivitas akan naik. Indonesia berpotensi memimpin pasar global.
Petani karet berkontribusi besar. Mereka menyediakan bahan baku ban kendaraan. Manfaatnya dirasakan masyarakat dunia. Data Kementerian Pertanian (2025) mencatat luas perkebunan karet rakyat 3,6 juta hektare. Produksi nasional 3,1 juta ton per tahun. Namun produktivitas per hektare masih kalah dari Thailand. Subsidi pupuk dapat meningkatkan hasil hingga 30 persen.
Harga pupuk nonsubsidi melonjak 40 persen akibat krisis global. Petani kecil kesulitan membeli. Akibatnya produksi lateks menurun. Indonesia berisiko kehilangan pangsa pasar.
Viva Yoga berjanji mengusulkan kebijakan ini dalam rapat koordinasi lintas kementerian. Targetnya, anggaran subsidi pupuk untuk karet masuk APBN 2027. Dengan dukungan penuh, produktivitas meningkat. Kesejahteraan petani di Kalimantan Timur dan seluruh Indonesia terangkat. Gernas Karet akan digerakkan kembali. Indonesia diharapkan merebut posisi eksportir karet nomor satu dunia. Langkah ini bukti negara hadir untuk petani kecil.
Baca juga:Prabowo Undang Pejabat Ekonomi Era SBY untuk Bahas Pengalaman Krisis 2008
