AS Harap Perang Iran Selesai dalam Pekan, Tanpa Pasukan Darat
- lighthousedistrict – Amerika Serikat memperkirakan operasi militernya terhadap Iran hanya akan berlangsung dalam hitungan pekan, bukan berbulan-bulan. Washington juga menilai seluruh target bisa dicapai tanpa perlu mengerahkan pasukan darat. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan operasi militer saat ini berjalan sesuai rencana, bahkan cenderung lebih cepat dari jadwal. Ia menegaskan penyelesaian konflik diproyeksikan dalam waktu relatif singkat. Pernyataan ini disampaikan Rubio usai pertemuan dengan para menteri luar negeri negara G7 di Prancis .
“Ketika kita selesai dengan mereka dalam beberapa minggu ke depan, mereka akan lebih lemah daripada yang pernah terjadi dalam sejarah terkini,” ujar Rubio kepada wartawan. Ia meyakini AS mampu mencapai semua tujuan tanpa pengerahan pasukan darat. Namun, ia juga menekankan bahwa pengiriman ribuan personel ke kawasan bertujuan memberi Presiden Donald Trump “opsionalitas maksimum” untuk beradaptasi jika situasi berubah . Sebelumnya, Trump sempat menyatakan operasi bisa berlangsung empat hingga lima pekan, bahkan lebih lama jika diperlukan .
Perubahan proyeksi durasi ini terjadi setelah AS tidak mendapat dukungan penuh dari sekutu G7. Negara-negara seperti Prancis, Inggris, dan Jerman lebih memilih pendekatan diplomatik dan menolak terlibat dalam operasi ofensif . Para menteri G7 mengadopsi deklarasi yang menyerukan penghentian serangan terhadap warga sipil dan fasilitas diplomatik. Mereka juga menekankan pentingnya pemulihan navigasi yang aman di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima minyak dunia .
Rubio mengkhawatirkan Iran akan memberlakukan sistem tarif atau pembatasan permanen bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. “Ini bukan hanya ilegal, tetapi juga tidak dapat diterima. Ini berbahaya bagi dunia,” tegasnya. AS akan mencari kerja sama internasional untuk menjaga selat tetap terbuka pasca-perang, meski tidak harus memimpin sendiri koalisi tersebut . Sementara itu, utusan khusus Trump, Steve Witkoff, menyatakan optimisme bahwa pertemuan dengan Iran dapat terjadi dalam waktu dekat setelah AS menyampaikan proposal perdamaian 15 poin melalui mediator Pakistan .
“Baca Juga : Presiden Maduro Ditetapkan di Penjara Brooklyn“
AS Kirim Pasukan untuk Fleksibilitas Trump, Bahas Risiko Tarif Iran di Selat Hormuz Bersama G7
Amerika Serikat tetap mengirim sejumlah pasukan ke kawasan Timur Tengah meskipun memproyeksikan operasi militer terhadap Iran akan berlangsung singkat. Langkah ini disebut sebagai upaya memberi fleksibilitas bagi Presiden Donald Trump dalam merespons berbagai kemungkinan di lapangan. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan pengiriman personel tambahan bertujuan memberikan “opsionalitas maksimum” bagi presiden. Pasukan tersebut disiapkan untuk mengantisipasi jika situasi berubah di luar perkiraan awal. Keputusan ini mencerminkan pendekatan kehati-hatian di tengah dinamika konflik yang kompleks.
Di sisi lain, Washington juga membahas risiko pascakonflik bersama negara-negara G7. Salah satu kekhawatiran utama adalah potensi Iran memberlakukan tarif pelayaran di Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur vital perdagangan energi global yang dilalui sekitar seperlima minyak dunia. Rubio mengkhawatirkan Iran akan memberlakukan sistem tarif atau pembatasan permanen bagi kapal yang melintas. “Ini bukan hanya ilegal, tetapi juga tidak dapat diterima. Ini berbahaya bagi dunia,” tegasnya.
AS mendorong negara-negara Eropa dan Asia yang bergantung pada jalur tersebut untuk ikut menjaga keamanan pelayaran. Washington berharap ada kerja sama internasional dalam menjaga selat tetap terbuka pascakonflik. Namun, AS menyatakan tidak harus memimpin sendiri koalisi tersebut. Negara-negara G7 sendiri dalam deklarasi terbaru menyerukan pemulihan navigasi yang aman di Selat Hormuz. Mereka juga menekankan pentingnya pendekatan diplomatik untuk menyelesaikan akar konflik.
Ke depan, stabilitas Selat Hormuz menjadi isu kritis yang akan memengaruhi harga energi global. Gangguan di jalur ini dapat berdampak langsung pada perekonomian banyak negara, termasuk Indonesia. AS dan sekutu berkomitmen menjaga agar jalur perdagangan strategis ini tetap terbuka. Namun, pendekatan yang ditempuh tampaknya akan lebih mengedepankan kerja sama multilateral. Dengan koordinasi yang kuat, diharapkan keamanan pelayaran di kawasan dapat terjaga tanpa eskalasi konflik lebih lanjut.
AS Kirim Marinir dan Pasukan Lintas Udara ke Timur Tengah, Iran Balas Serang Aset dan Sasaran Sipil
Amerika Serikat telah mengirim dua gelombang pasukan Marinir dalam jumlah besar ke kawasan Timur Tengah. Gelombang pertama dijadwalkan tiba akhir Maret menggunakan kapal amfibi. Pentagon juga bersiap mengerahkan ribuan pasukan elit lintas udara. Langkah ini memicu kekhawatiran konflik bisa berkembang menjadi perang darat berkepanjangan. Masyarakat internasional pun cemas akan eskalasi yang lebih luas di kawasan strategis tersebut.
Iran telah membalas serangan dengan menargetkan aset AS dan Israel. Serangan balasan juga menyasar fasilitas sipil di negara-negara Teluk dan jalur pelayaran internasional. Konflik yang dimulai pada 28 Februari melalui serangan udara AS dan Israel telah menewaskan pemimpin tertinggi Iran dan sejumlah pejabat penting. Eskalasi ini mengguncang perdagangan global, khususnya sektor energi. Lonjakan harga komoditas akibat konflik pun memicu kekhawatiran resesi di berbagai negara.
Presiden Donald Trump disebut ingin segera mengakhiri perang yang tidak populer ini. Ia mengklaim sedang mendorong solusi diplomatik meskipun Iran menyatakan belum ada pembicaraan resmi. Utusan khusus AS Steve Witkoff menyebut Washington berharap bisa segera menggelar pertemuan dengan Iran dalam waktu dekat. Witkoff juga menunggu respons Teheran atas proposal damai 15 poin yang diajukan AS. Proposal tersebut disampaikan melalui mediator Pakistan sebagai upaya membuka jalur komunikasi.
Ke depan, stabilitas kawasan Timur Tengah akan sangat bergantung pada hasil diplomasi yang tengah diupayakan. Kehadiran pasukan AS dalam jumlah besar di tengah upaya diplomatik menciptakan ketegangan yang kontradiktif. Dunia kini menanti respons Iran terhadap proposal damai yang diajukan. Apakah Teheran bersedia duduk dalam pembicaraan atau justru memperkuat perlawanan militer. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini, risiko eskalasi lebih lanjut tetap membayangi. Diplomasi menjadi harapan utama untuk mencegah konflik terbuka yang lebih luas.
“Baca Juga : Korea Selatan Larang Ekspor Nafta karena Gangguan Pasokan“
