Pakistan Siap Jadi Tuan Rumah Pembicaraan Konklusif AS-Iran
lighthousedistrict – Pakistan membuka peluang menjadi “penengah” dalam konflik yang memanas di Timur Tengah. Perdana Menteri Shehbaz Sharif pada Selasa (24/3) menyatakan negaranya siap menjadi tuan rumah pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran. Langkah ini diambil demi mencapai solusi damai atas konflik yang telah berlangsung hampir empat pekan.
Lewat akun media sosial X, Sharif menegaskan dukungan penuh Pakistan terhadap upaya dialog. “Pakistan menyambut dan sepenuhnya mendukung upaya dialog guna mengakhiri perang di Timur Tengah demi perdamaian dan stabilitas di kawasan dan sekitarnya,” kata Sharif .
Ia juga menambahkan kesiapan negaranya untuk memfasilitasi pertemuan tersebut jika kedua pihak sepakat. “Dengan persetujuan AS dan Iran, Pakistan siap dan merasa terhormat untuk menjadi tuan rumah guna memfasilitasi pembicaraan yang bermakna dan konklusif untuk penyelesaian komprehensif konflik yang sedang berlangsung,” ujarnya .
Pernyataan ini muncul di tengah dinamika diplomasi yang terus bergerak. Presiden AS Donald Trump diketahui telah memposting ulang pernyataan Sharif di platform Truth Social miliknya, yang dianggap sebagai isyarat dukungan diplomatik dari Washington .
Sebelumnya, Panglima Angkatan Darat Pakistan Jenderal Asim Munir dilaporkan telah berkomunikasi dengan Presiden Donald Trump pada Minggu (23/3) terkait situasi perang Iran. Laporan Financial Times menyebut bahwa Pakistan tengah memposisikan diri sebagai mediator utama untuk mengakhiri konflik .
Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar juga melakukan komunikasi paralel dengan mitranya dari Iran, Abbas Araghchi. Pakistan, Turkiye, dan Mesir disebut telah membentuk koordinasi untuk memfasilitasi komunikasi tidak langsung antara kedua pihak yang bertikai .
Sumber diplomatik di Islamabad mengungkapkan bahwa diskusi mengenai kemungkinan pertemuan telah memasuki tahap lanjut. Jika terlaksana, pertemuan tersebut diperkirakan akan berlangsung dalam waktu satu pekan ke depan .
Langkah Pakistan ini didasari oleh posisi uniknya yang memiliki hubungan baik dengan kedua belah pihak. Islamabad memiliki hubungan erat dengan pemerintahan Trump sekaligus memelihara hubungan mendalam dengan Iran. Negara-negara Teluk juga memiliki kepercayaan tinggi terhadap Pakistan, menempatkannya dalam posisi strategis untuk membantu menengahi kesepakatan .
Para analis mencatat bahwa Pakistan sebelumnya telah secara diam-diam terlibat dalam upaya diplomatik. Namun tawaran resmi Sharif kali ini menandai pergeseran dari peran di balik layar menjadi peran yang lebih terbuka . Pilihan Pakistan sebagai penengah juga menunjukkan kepercayaan komunitas internasional terhadap kemampuannya dalam menangani krisis regional yang sensitif.
“Baca Juga : Hunian Pascabencana Aceh Siap Huni, Warga Rayakan Idul Fitri“
Pakistan Tawarkan Diri sebagai Penengah Konflik Iran-Amerika Serikat
Pakistan membuka peluang menjadi “penengah” dalam konflik yang memanas di Timur Tengah. Perdana Menteri Shehbaz Sharif pada Selasa (24/3) menyatakan negaranya siap menjadi tuan rumah pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran. Langkah ini diambil demi mencapai solusi damai atas konflik yang telah berlangsung hampir empat pekan.
Lewat akun media sosial X, Sharif menegaskan dukungan penuh Pakistan terhadap upaya dialog. “Pakistan menyambut dan sepenuhnya mendukung upaya dialog guna mengakhiri perang di Timur Tengah demi perdamaian dan stabilitas di kawasan dan sekitarnya,” kata Sharif.
Ia juga menambahkan kesiapan negaranya untuk memfasilitasi pertemuan tersebut jika kedua pihak sepakat. Pakistan bahkan menawarkan diri sebagai lokasi pertemuan tingkat tinggi antara pejabat senior AS dan Iran. “Dengan persetujuan AS dan Iran, Pakistan siap dan merasa terhormat untuk menjadi tuan rumah guna memfasilitasi pembicaraan yang bermakna dan konklusif untuk penyelesaian komprehensif konflik yang sedang berlangsung,” ujarnya.
Menariknya, tak lama setelah pernyataan itu, Presiden AS Donald Trump ikut membagikan tangkapan layar pernyataan Sharif di platform Truth Social miliknya. Langkah ini seolah memberi sinyal bahwa opsi dialog memang sedang dipertimbangkan oleh Washington.
Sumber di Pakistan menyebutkan delegasi AS dijadwalkan tiba dalam waktu dekat untuk menjajaki kemungkinan pembicaraan damai. Namun, ada satu kendala besar yang masih menghadang. Iran disebut belum siap karena masih menyimpan ketidakpercayaan yang mendalam terhadap Amerika Serikat.
Situasi di Timur Tengah sendiri masih jauh dari kata stabil. Serangan udara yang dilancarkan AS dan Israel ke Iran sejak 28 Februari dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang. Salah satu korban tewas adalah Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal ke berbagai wilayah, termasuk Israel, Yordania, Irak, hingga negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. Dampaknya meluas, mulai dari gangguan infrastruktur hingga pasar global dan penerbangan internasional.
Pada Senin (23/3), Trump sempat mengumumkan penghentian serangan selama lima hari terhadap infrastruktur energi Iran. Ia menyebut ada pembicaraan yang “sangat baik dan produktif” dengan Teheran. Namun, klaim itu langsung dibantah Iran yang menyebutnya sebagai “berita bohong”. Meski begitu, pihak Iran mengakui telah menerima pesan dari sejumlah negara sahabat. Pesan-pesan tersebut menunjukkan adanya dorongan untuk membuka dialog dengan Amerika Serikat.
“Baca Juga : PEP Temukan Sumur Minyak Abab, Produksi 505 BOPD“
