Paus Leo Desak Monaco Surga Pajak Bantu Kaum Miskin
- lighthousedistrict – Paus Leo mendesak penduduk Monaco untuk berbagi kekayaan mereka dan membantu mereka yang membutuhkan. Seruan ini disampaikan saat perjalanan sehari ke Monaco, negara mikro bebas pajak di French Riviera. Monaco dikenal sebagai surga bagi para miliarder dan kapal pesiar mewah. “Di mata Tuhan, tidak ada yang diterima dengan sia-sia!” kata Paus kepada kerumunan yang mengibarkan bendera kuning di bawah sinar matahari yang cerah pada Sabtu.
Dalam kunjungan yang berlangsung singkat namun penuh makna itu, Paus Leo menegaskan bahwa kekayaan bukanlah tujuan akhir. Ia mengingatkan bahwa hidup manusia memiliki dimensi spiritual yang jauh melampaui materi. “Kita semua adalah pengembara yang membawa kekayaan di hati, bukan di dompet,” ujarnya. Pernyataan ini menjadi kritik halus terhadap gaya hidup mewah yang selama ini menjadi identitas Monaco.
Paus juga menekankan pentingnya solidaritas sosial di tengah ketimpangan ekonomi yang mencolok. Monaco memiliki pendapatan per kapita tertinggi di dunia, namun tetap menghadapi persoalan kemiskinan dan kesenjangan. “Harta yang tidak dibagikan akan menjadi beban. Harta yang dibagikan akan menjadi berkat,” pesan Paus. Ia mengajak warga Monaco untuk menggunakan kekayaan sebagai alat membantu sesama, bukan sekadar memuaskan ambisi pribadi.
Kunjungan Paus Leo ke Monaco ini menjadi momen langka di mana pemimpin Gereja Katolik menyampaikan pesan keadilan sosial di tengah pusat kemewahan global. Seruan untuk berbagi ini diharapkan dapat menggugah kesadaran para pemilik modal untuk berkontribusi lebih besar bagi kesejahteraan bersama. Dengan pesan yang lugas namun penuh kasih, Paus Leo meninggalkan catatan moral yang relevan tidak hanya bagi Monaco, tetapi bagi seluruh masyarakat dunia yang hidup dalam pusaran materialisme.
“Baca Juga : AS Harap Perang Iran Selesai dalam Pekan, Tanpa Pasukan Darat“
Paus Leo: Kebaikan Harus Dibagikan, Bukan Ditahan. Kunjungan Bersejarah ke Monaco Setelah Lima Abad
Paus Leo menegaskan bahwa setiap kebaikan yang diberikan kepada manusia memiliki kebutuhan intrinsik untuk tidak ditahan, tetapi dibagikan. “Setiap kebaikan yang diberikan kepada kita… memiliki kebutuhan intrinsik untuk tidak ditahan, tetapi untuk dibagikan, sehingga kehidupan setiap orang dapat menjadi lebih baik,” ujarnya di hadapan ribuan warga Monaco yang menyambutnya. Seruan ini menjadi pesan sentral dalam kunjungan sehari Paus ke negara mikro di French Riviera tersebut.
Leo adalah Paus pertama dalam hampir lima abad yang mengunjungi wilayah Mediterania yang kaya raya ini. Vatikan menyatakan bahwa kunjungan ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa negara-negara kecil pun dapat memberikan dampak besar di panggung dunia. Paus tiba setelah perjalanan helikopter selama 90 menit dari Vatikan. Ia pertama kali bertemu dengan Pangeran Albert, kepala negara Monaco dan putra dari mendiang bintang Hollywood Grace Kelly.
Dalam pertemuan dengan Pangeran Albert, Paus kembali mengulangi pesannya bahwa orang kaya harus membantu mereka yang kurang beruntung. Ia memberikan kepada pangeran sebuah karya seni berwarna-warni yang dibuat oleh studio mosaik Vatikan. Karya tersebut berupa gambar Santo Fransiskus dari Assisi, putra seorang pedagang Italia kaya raya abad ke-13 yang melepaskan warisannya untuk membantu kaum miskin. Pemberian ini menjadi simbol yang kuat tentang makna berbagi dan kepedulian sosial.
Seorang warga Monaco di antara kerumunan yang menyambut Leo di luar kediaman resmi Albert mengungkapkan harapannya. “Saat ini ada banyak ketegangan,” kata Jean Claude Haddad, 60 tahun. “Ia dapat menyatukan orang-orang… ia mempersatukan orang-orang.” Harapan ini mencerminkan kerinduan akan perdamaian di tengah konflik Iran yang sedang berlangsung. Kunjungan Paus Leo ke Monaco menjadi momen penting yang tidak hanya membawa pesan spiritual, tetapi juga harapan akan persatuan di tengah dunia yang terpecah.
Paus Leo Puji Veto Pangeran Albert Soal Aborsi di Monaco, Serukan Pembelaan Martabat Manusia
Meskipun kerumunan yang menyambut Paus Leo di Monaco relatif sedikit, pesan yang disampaikannya tetap menggema. Hanya sedikit warga yang berbaris di jalanan saat ia berkeliling negara seluas 2,08 kilometer persegi dengan mobil kepausan terbuka. Namun, dalam pertemuan dengan umat Katolik setempat, Paus menyampaikan pesan penting yang selaras dengan ajaran Gereja.
Paus tampak memuji keputusan Pangeran Albert tahun lalu untuk memveto rancangan undang-undang Monaco yang akan melegalkan aborsi. Veto tersebut ditentang keras oleh Gereja Katolik. Leo mendesak umat Katolik untuk terus bersuara “untuk membela martabat manusia”, menggunakan terminologi Gereja yang sering digunakan untuk menentang aborsi dan hukuman mati. Meskipun veto Albert pada 2025 sebagian besar bersifat simbolis karena aborsi adalah hak konstitusional di negara tetangganya, Prancis, langkah ini tetap menjadi pernyataan moral yang kuat.
Leo, Paus pertama dari Amerika Serikat, terpilih pada bulan Mei untuk menggantikan mendiang Paus Fransiskus sebagai kepala Gereja yang beranggotakan 1,4 miliar orang. Kunjungannya ke Monaco hanyalah kunjungan keduanya di luar Italia. Namun, kunjungan ini membuka apa yang diperkirakan akan menjadi tahun perjalanan yang sibuk bagi Paus berusia 70 tahun tersebut. Relatif muda dan dalam kondisi kesehatan yang baik untuk seorang Paus, Leo akan melakukan tur ambisius ke empat negara di Afrika pada bulan April, serta kunjungan selama seminggu ke Spanyol pada bulan Juni.
Dalam kunjungan singkat namun penuh makna ini, Paus Leo menunjukkan bahwa pesan keadilan sosial dan pembelaan martabat manusia tidak hanya disampaikan di tempat-tempat ramai, tetapi juga di negara kecil sekalipun. Dengan agenda perjalanan yang padat ke depan, Leo semakin mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin global yang aktif menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan di tengah dunia yang tengah dilanda berbagai konflik dan ketegangan.
“Baca Juga : Presiden Maduro Ditetapkan di Penjara Brooklyn“
