Ribuan Warga AS Turun ke Jalan Protes Trump, Teriak No Kings
- lighthousedistrict – Ribuan demonstran turun ke jalan di berbagai kota di Amerika Serikat pada Sabtu dalam gelombang ketiga aksi bertajuk No Kings. Aksi ini merupakan bentuk protes terhadap kebijakan Presiden Donald Trump, termasuk deportasi imigran secara agresif, perang dengan Iran, serta sejumlah kebijakan lainnya. Lebih dari 3.200 aksi direncanakan berlangsung di seluruh 50 negara bagian. Dua aksi sebelumnya diketahui telah menarik jutaan peserta, menunjukkan meningkatnya gelombang penolakan terhadap pemerintah.
Di negara bagian Minnesota, yang menjadi pusat kebijakan keras terhadap imigrasi ilegal, aksi besar digelar di depan gedung parlemen negara bagian di Saint Paul. Banyak demonstran membawa poster bergambar Renee Good dan Alex Pretti, yang tewas ditembak petugas imigrasi federal di Minneapolis tahun ini. Kedua korban menjadi simbol perlawanan terhadap kebijakan imigrasi yang dinilai semakin represif. Aksi di Minnesota juga diwarnai dengan seruan untuk menghentikan perang Iran yang telah menewaskan ribuan warga sipil dan memicu krisis energi global.
Aksi No Kings tidak hanya berlangsung di kota-kota besar seperti New York, Los Angeles, dan Chicago. Gelombang protes juga menjalar ke kota-kota kecil di pedalaman Amerika, menunjukkan bahwa ketidakpuasan terhadap pemerintahan Trump telah meluas ke berbagai lapisan masyarakat. Para demonstran membawa spanduk dengan berbagai tuntutan, mulai dari penghentian deportasi massal hingga penarikan pasukan AS dari Timur Tengah. Beberapa aksi juga menyoroti dampak perang Iran terhadap harga energi yang membebani rumah tangga Amerika.
Gelombang protes yang terus menguat ini menjadi tantangan serius bagi pemerintahan Trump di tengah masa jabatan keduanya. Meskipun presiden masih memiliki basis pendukung yang kuat, jumlah demonstran yang terus bertambah menunjukkan bahwa resistensi terhadap kebijakannya semakin meluas. Dengan semakin mendekatnya pemilu paruh waktu, tekanan publik terhadap pemerintahan Trump diprediksi akan terus meningkat. Aksi No Kings yang telah memasuki gelombang ketiga ini menjadi sinyal bahwa gerakan perlawanan terhadap kebijakan presiden masih jauh dari kata usai.
“Baca Juga : Korea Selatan Larang Ekspor Nafta karena Gangguan Pasokan“
Gubernur Walz dan Bernie Sanders Dukung Aksi No Kings, Persetujuan Trump Anjlok ke 36%
Gubernur Minnesota Tim Walz, yang juga kandidat wakil presiden dari Partai Demokrat pada 2024, menyampaikan dukungannya kepada para demonstran dalam gelombang ketiga aksi No Kings. Ia menyebut perlawanan terhadap kebijakan Trump sebagai cerminan nilai-nilai terbaik Amerika. Senator AS Bernie Sanders turut hadir dan berpidato, menyerukan penolakan terhadap otoritarianisme. Musisi Bruce Springsteen juga tampil membawakan lagu “Streets of Minneapolis” yang mengkritik kebijakan imigrasi Trump. Aksi ini menjadi panggung bagi tokoh-tokoh nasional untuk menyuarakan perlawanan terhadap pemerintahan.
Aksi besar lainnya berlangsung di kota-kota seperti New York, Dallas, Los Angeles, Philadelphia, dan Washington. Menurut penyelenggara, sekitar dua pertiga aksi justru terjadi di luar kota besar, menunjukkan peningkatan partisipasi di komunitas kecil. Di New York, puluhan ribu orang memadati kawasan Manhattan. Aktor Robert De Niro yang menjadi salah satu penggerak aksi menyebut Trump sebagai ancaman besar terhadap kebebasan dan keamanan negara. Di Washington, massa berkumpul di National Mall dengan membawa slogan pro-demokrasi dan poster anti-Trump. Bahkan di kawasan Chevy Chase, Maryland, kelompok lansia turut berpartisipasi dengan membawa pesan-pesan penolakan terhadap “tirani”.
Di Dallas, aksi sempat diwarnai bentrokan antara demonstran No Kings dan kelompok tandingan, termasuk yang dipimpin oleh Enrique Tarrio. Polisi setempat melakukan sejumlah penangkapan setelah terjadi kericuhan. Meskipun sebagian besar aksi berlangsung damai, insiden di Texas ini menunjukkan ketegangan yang semakin memanas di masyarakat. Kebijakan Trump disebut semakin memicu mobilisasi oposisi dari berbagai kalangan. Salah satu peserta aksi di Dallas menyatakan bahwa ia tidak bisa lagi diam melihat arah kebijakan pemerintah, terutama demi masa depan generasi berikutnya.
Menurut jajak pendapat Reuters/Ipsos, tingkat persetujuan publik terhadap Trump kini turun menjadi 36%, level terendah sejak ia kembali menjabat sebagai presiden. Penurunan ini mencerminkan meningkatnya ketidakpuasan masyarakat terhadap berbagai kebijakan kontroversial, termasuk deportasi massal dan perang Iran. Dengan gelombang protes yang terus menguat dan tingkat persetujuan yang merosot, tekanan terhadap pemerintahan Trump diprediksi akan semakin besar. Aksi No Kings yang telah memasuki gelombang ketiga ini menjadi indikasi bahwa perlawanan terhadap kebijakan presiden masih akan terus berlanjut dalam beberapa bulan mendatang.
“Baca Juga : Paus Leo Desak Monaco Surga Pajak Bantu Kaum Miskin“
