Hipertensi
HIPERTENSI TIDAK TERKENDALI BERISIKO PICU KOMPLIKASI ORGAN VITAL
Dokter RS UI Ingatkan Dampak Jangka Panjang Tekanan Darah Tinggi
Hipertensi yang tidak terkontrol dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan komplikasi serius pada berbagai organ tubuh. Kondisi ini dapat berkembang perlahan tanpa disadari hingga menyebabkan kerusakan permanen, terutama pada ginjal, jantung, dan pembuluh darah otak.
Baca Juga “Cara Membuat Kue Pancong Tanpa Cetakan Khusus, Tetap Bersarang dan Empuk“
Dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Universitas Indonesia, dr. Anindia Larasati, Sp.PD, FINASIM, menjelaskan bahwa tekanan darah tinggi yang terus berlangsung akan memengaruhi struktur pembuluh darah secara bertahap.
Ia menekankan bahwa pembuluh darah kecil, terutama di ginjal, sangat rentan mengalami kerusakan akibat tekanan yang tinggi dalam jangka panjang.
“Pembuluh darah di ginjal itu ukurannya kecil. Kalau tekanan darah terus tinggi, pembuluhnya bisa menebal dan mengeras, sehingga fungsi ginjal ikut menurun,” ujar dr. Anindia kepada ANTARA di Jakarta, Senin.
KERUSAKAN GINJAL HINGGA RISIKO SERANGAN JANTUNG
Menurut dr. Anindia, perubahan pada pembuluh darah akibat hipertensi tidak hanya terjadi di ginjal, tetapi juga pada jantung. Kekakuan pembuluh darah dapat mengganggu aliran darah yang seharusnya lancar ke organ vital tersebut.
Kondisi ini meningkatkan risiko penyakit jantung koroner hingga serangan jantung. Selain itu, pembuluh darah otak juga dapat terdampak dan memicu stroke apabila tekanan darah tidak dikendalikan dengan baik.
Kerusakan tersebut umumnya terjadi secara perlahan sehingga sering tidak terdeteksi pada tahap awal.
KOMPLIKASI BISA MUNCUL DALAM PULUHAN TAHUN
Dr. Anindia menjelaskan bahwa dampak hipertensi tidak langsung terlihat dalam waktu singkat, terutama pada individu yang masih muda. Komplikasi bisa baru muncul setelah 20 hingga 25 tahun apabila tekanan darah tidak terkontrol.
Hal ini membuat hipertensi sering tidak dianggap berbahaya pada awalnya, padahal proses kerusakan sudah berlangsung sejak lama di dalam tubuh.
“Pada usia muda, dampaknya sering baru terlihat dalam jangka panjang, bisa dua sampai dua setengah dekade kemudian,” jelasnya.
HIPERTENSI SERING TANPA GEJALA AWAL
Pada banyak kasus, penderita hipertensi tidak merasakan gejala yang jelas. Kondisi ini terjadi karena pembuluh darah masih cukup elastis sehingga tubuh beradaptasi dengan tekanan tinggi.
Gejala baru muncul ketika tekanan darah sudah mencapai tingkat yang lebih parah. Keluhan yang dapat dirasakan antara lain sakit kepala, pusing yang menetap, mual, atau muntah.
Namun, gejala tersebut tidak spesifik sehingga pemeriksaan tekanan darah secara rutin menjadi cara paling efektif untuk mendeteksi hipertensi sejak dini.
FAKTOR RISIKO DAN PERAN GAYA HIDUP
Hipertensi dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk keturunan dan pola hidup. Individu dengan riwayat keluarga hipertensi memiliki risiko lebih tinggi, namun faktor ini dapat ditekan dengan gaya hidup sehat.
Aktivitas fisik rutin, pengurangan konsumsi garam, menjaga berat badan ideal, serta menghindari rokok menjadi langkah pencegahan yang dianjurkan.
Menurut dr. Anindia, perubahan gaya hidup dapat membantu menurunkan risiko meskipun terdapat faktor genetik dalam keluarga.
PENUTUP: DETEKSI DINI DAN POLA HIDUP SEHAT JADI KUNCI
Hipertensi yang tidak terkontrol dapat menimbulkan dampak jangka panjang yang serius pada organ vital. Karena sering tidak menunjukkan gejala awal, kondisi ini kerap terlambat disadari.
Pemeriksaan tekanan darah secara berkala dan penerapan pola hidup sehat menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi. Kesadaran sejak dini berperan besar dalam menjaga kesehatan jangka panjang dan kualitas hidup seseorang.
Baca Juga “Dieng Caldera Race jadi sarana promosi wisata olahraga Wonosobo“
