Wisma Habibie Ainun Dibuka untuk Pernikahan, Ini Biayanya
- lighthousedistrict – Banyak yang meyakini pernikahan cukup digelar sekali seumur hidup sehingga perlu dirayakan dengan cara seistimewa mungkin. Salah satunya dengan memilih venue yang sarat sejarah, seperti di kediaman pribadi Presiden ke-3 Republik Indonesia, BJ Habibie. Rumah yang kini bernama Wisma Habibie dan Ainun itu kini terbuka untuk lokasi pernikahan.
Wulan Agustien, Head of Sales & Operations Wisma Habibie dan Ainun, menyebutkan sudah ada beberapa pasangan yang memilih tempat itu sebagai lokasi acara sakral tersebut. Berada di kawasan Patra Kuningan, Jakarta Selatan, tempat itu menawarkan suasana ‘homey’ (nyaman seperti di rumah sendiri) dengan dikelilingi pepohonan tinggi rindang.
“Karena kita ini (Wisma Habibie dan Ainun) sarat sejarah dan filosofi, kadang-kadang justru hanya orang tertentu yang ingin (menikah di sini),” kata Wulan kepada Lifestyle lighthousedistrict.
Kisah di Balik Pasangan yang Memilih Wisma Habibie
Wulan mencontohkan sepasang pengantin yang berencana menikah pada awal April 2026. Setelah mengobrol, terungkap bahwa alasan pasangan itu memilih tempat tersebut karena calon pengantin lelakinya ternyata berkuliah di Aachen, salah satu kota di Jerman.
“Kota itu tempat Pak Habibie sekolah dulu. Jadi, ingin mengenang masa itu,” kata Wulan. Kampus yang dimaksud adalah Rheinisch-Westfälisch Technische Hochschule (RWTH Aachen) , tempat BJ Habibie meraih gelar Doktor-Ingeniur dengan predikat summa cum laude—sebuah pencapaian langka yang hanya diberikan kepada 0,5 persen lulusan doktoral di Jerman.
Ada lagi calon pengantin yang memilih tempat itu sebagai lokasi pernikahan pada Desember 2025. Kisahnya unik: pengantin lelakinya meraih lima gelar akademik.
“Dia orang Amerika. Dia punya lima gelar dan dia sedang menyelesaikan PhD. Jadi menurut dia, library (perpustakaan) ini cocok buat dia menikah,” tutur Wulan.
Fasilitas dan Konsep Pernikahan di Wisma Habibie
Wisma Habibie dan Ainun tidak seperti gedung pernikahan komersial pada umumnya. Venue ini tetap mempertahankan suasana rumah tinggal yang hangat dan intim. Beberapa ruangan yang bisa digunakan untuk pernikahan antara lain:
- Ruang Perpustakaan – Dikenal sebagai tempat Habibie menghabiskan waktu membaca dan menulis, cocok untuk resepsi kecil yang elegan
- Taman Belakang – Area outdoor dengan latar rumah bergaya tropis yang asri
- Ruang Keluarga – Untuk acara yang lebih privat seperti lamaran atau wedding dinner
Menurut Wulan, konsep pernikahan yang paling sering dipilih adalah small wedding dengan jumlah tamu terbatas (20-50 orang). Suasana yang ditawarkan bukan kemewahan mewah ala hotel bintang lima, tetapi kedekatan emosional dengan sejarah salah satu presiden paling dicintai di Indonesia.
Lebih dari Sekadar Venue: Menghidupkan Kembali Memori Cinta Habibie-Ainun
Bagi pasangan yang memilih Wisma Habibie, mereka tidak hanya menyewa gedung. Mereka juga turut menghidupkan kembali aura cinta sejati antara Habibie dan Ainun—cinta yang terkenal melalui film Habibie & Ainun (2015) dan surat-surat cinta mereka selama masa pacaran jarak jauh Jerman-Indonesia.
Wulan menambahkan bahwa beberapa pasangan bahkan meminta untuk bisa melihat langsung koleksi foto dan memorabilia Habibie yang masih tersimpan rapi di dalam rumah. Ada yang ingin berfoto di kursi favorit Habibie membaca koran, atau di meja tempat Ainun biasa merangkai bunga.
“Memang tidak semua orang cocok menikah di sini. Tapi bagi mereka yang mengerti sejarah, ini adalah tempat yang sangat istimewa,” tutup Wulan.
Dengan dibukanya Wisma Habibie dan Ainun untuk pernikahan, generasi muda kini bisa merasakan sendiri bagaimana rasanya mengucapkan janji suci di tempat yang pernah menjadi saksi bisu perjuangan dan cinta sepasang insan terbaik bangsa.
“Baca Juga : Intel Gabung Proyek Chip AI Elon Musk di Texas“
Kapasitas Wisma Habibie untuk Pernikahan: Hingga 300 Tamu dengan Seating Bervariasi
Wulan Agustien menyebutkan setidaknya ada dua ruang utama yang dibuka untuk menggelar pernikahan, yakni perpustakaan dan pendopo, serta Taman Intelektual yang berada di samping perpustakaan. Luasan area perpustakaan dan pendopo yang berelmen arsitektur Jawa dan sentuhan kayu jati itu sama, masing-masing 18 x 6 meter persegi.
Di Taman Intelektual, pihaknya biasanya memasang standing table untuk mendukung standing party (pesta berdiri dengan meja tinggi). Sementara di area pendopo dan perpustakaan bisa diatur dengan beragam cara sesuai kebutuhan acara.
“Untuk duduk di dalam itu, (kapasitasnya) bisa 100 kalau seating arrangement-nya adalah theater. Tapi kalau long table, itu bisa sampai 70 orang. Kalau formatnya round table, bisa 90 (orang). Jadi, tergantung seating arrangement-nya sih,” ujarnya.
“Tapi kalau all venue, kita sarankan maksimal 300. Kalau pernikahan itu soalnya come and go kan, jadi masih bisa di 300. Tapi kalau salah satu venue, saran saya sih 150 (orang),” imbuh Wulan.
Paket Pernikahan Intim Mulai Rp75 Juta
Pihaknya juga menyediakan paket pesta pernikahan intim dengan maksimal tamu sekitar 50 orang. Biayanya sekitar Rp75 juta dan sudah termasuk konsumsi. “Tapi memang belum sama WO (wedding organizer) dan dekorasinya,” kata Wulan. Artinya, harga tersebut hanya untuk sewa venue dan katering, sementara dekorasi, dokumentasi, dan entertainment diatur sendiri oleh pasangan atau WO pilihan mereka.
Tidak Ada Syarat Khusus, Hanya Kirimkan Rundown Acara
Wulan menyatakan tidak ada syarat tertentu bagi calon pengantin untuk menggelar pesta pernikahan di sana. Hanya saja, ia meminta agar mereka mengirimkan TOR (Term of Reference) atau rundown acara agar pihaknya bisa memberi saran perihal pengaturan ruang.
“Di sini kan masih ada barang-barang. Yang stay kita tetap pertahankan. Yang di Pendopo itu juga banyak yang dipertahankan karena justru di situ nilai sejarahnya. Kalau dihilangkan, nanti enggak ada nilai sejarahnya lagi kan,” ujarnya.
Kebijakan ini penting karena Wisma Habibie bukanlah gedung kosong. Setiap sudutnya menyimpan memorabilia dan koleksi pribadi keluarga Habibie. Pasangan yang menikah di sini harus siap untuk “menikah dengan sejarah” — artinya, mereka tidak bisa mengubah tata letak secara radikal atau menutupi artefak bersejarah dengan dekorasi berlebihan.
Perpustakaan Habibie: Rancangan Ainun dengan Motif Truntum dan Bunga Matahari
Perpustakaan BJ Habibie yang berhias ukiran kayu bermotif truntum (motif batik yang melambangkan cinta yang tumbuh kembali) dan bunga matahari itu dibangun sekitar tahun 2006–2007. Kata Wulan, Ainun lah yang merancang ruangan tersebut.
“Bu Ainun hanya menikmati setahun (sebelum ia meninggal pada 2010), padahal ini semua arsiteknya Bu Ainun,” ujarnya. Artinya, ruangan yang kini menjadi saksi pernikahan generasi muda itu adalah mahakarya terakhir Ainun sebelum berpulang.
Di perpustakaan itu, ditaruh lima ribu koleksi buku dengan beragam topik. Menurut Satria Habibie (putra bungsu Habibie-Ainun) yang memandu tur Habibie Legacy Tour hari itu, hanya satu topik yang tidak ditaruh di perpustakaan, yakni teknologi.
“Alasannya adalah karena Eyang Habibie saat membuat perpustakaan ini, dia enggak mau membatasi isi perpustakaan ini. Semua orang bisa ikut baca,” kata dia.
Meski begitu, tamu luar dilarang menyentuh buku koleksi di perpustakaan dan bahkan tidak bisa naik ke lantai dua dengan alasan keamanan. Beberapa buku langka dan koleksi surat-surat pribadi Habibie-Ainun masih disimpan di area yang tidak dibuka untuk publik.
Filosofi di Balik Pemilihan Wisma Habibie untuk Pernikahan
Bagi pasangan yang memilih venue ini, pernikahan bukan sekadar pesta. Mereka ingin pernikahannya sarat makna: tentang kesetiaan (seperti Habibie yang tidak menikah lagi setelah Ainun wafat), tentang cinta yang melampaui jarak (Jerman-Indonesia), dan tentang pengabdian pada ilmu pengetahuan.
“Memang tidak semua orang cocok,” kata Wulan. “Tapi bagi yang paham, mereka tahu ini tempat yang tepat untuk memulai babak baru dalam hidup mereka.”
Dengan kapasitas yang fleksibel (dari 50 hingga 300 orang) dan nuansa sejarah yang kuat, Wisma Habibie dan Ainun kini menjadi alternatif unik bagi pasangan yang bosan dengan venue pernikahan konvensional di hotel atau gedung serbaguna.
“Baca Juga : Sustainabilitas Dorong Pembangunan Lewat Platform TLFF“
