Kemenperin
Kemenperin Percepat Peningkatan Kapasitas Industri Susu untuk Penuhi Kebutuhan MBG 2026
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mempercepat penguatan kapasitas industri pengolahan susu nasional guna mendukung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 2026. Langkah ini dinilai penting karena kebutuhan susu untuk program tersebut diperkirakan mencapai 4,8 miliar kemasan ukuran 115 mililiter dan 125 mililiter per tahun.
Baca Juga “BPS catat RI lanjutkan tren surplus neraca dagang 72 bulan beruntun
Saat ini, kapasitas produksi industri pengolahan susu nasional masih berada di bawah kebutuhan program. Karena itu, pemerintah mendorong investasi baru, peningkatan kapasitas produksi, serta keterlibatan koperasi untuk memperkuat pasokan susu dalam negeri secara berkelanjutan.
Kapasitas Industri Susu Nasional Masih di Bawah Kebutuhan Program MBG
Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kemenperin, Merrijantij Punguan Pintaria, mengatakan kapasitas industri pengolahan susu nasional untuk kemasan yang dibutuhkan program MBG baru mencapai 2,39 miliar kemasan per tahun.
Jumlah tersebut setara dengan sekitar 49,7 persen dari total kebutuhan susu program MBG pada 2026. Kondisi ini menunjukkan masih terdapat kesenjangan produksi yang perlu segera diatasi agar pasokan susu dapat memenuhi target pemerintah.
Menurut Merrijantij, sejumlah perusahaan telah melakukan ekspansi kapasitas dan menambah investasi baru untuk mendukung kebutuhan program MBG. Namun, peningkatan tersebut masih perlu diperluas mengingat kebutuhan susu nasional akan terus meningkat seiring pelaksanaan program secara penuh.
Kemenperin menilai keterlibatan lebih banyak pelaku industri menjadi faktor penting dalam mempercepat peningkatan kapasitas produksi. Selain perusahaan besar, koperasi susu juga diharapkan mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok nasional.
Pemerintah Dorong Kemitraan Industri dan Koperasi Pengolahan Susu
Untuk memperkuat produksi susu siap konsumsi, pemerintah mendorong kemitraan antara industri pengolahan susu dan koperasi peternak. Skema ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperluas nilai tambah di tingkat peternak.
Kemenperin mengajak perusahaan pengolahan susu memberikan pendampingan teknis kepada koperasi yang ingin mengembangkan fasilitas pengolahan susu. Pendampingan tersebut mencakup aspek produksi, pengemasan, hingga pemenuhan standar mutu produk.
Pemerintah juga menjalankan program restrukturisasi industri yang ditujukan untuk meningkatkan kapasitas unit pengemasan atau filling unit. Program ini terbuka bagi industri pengolahan susu maupun koperasi yang ingin memproduksi susu siap saji dalam kemasan.
Melalui program tersebut, pemerintah memberikan insentif berupa penggantian biaya investasi hingga 35 persen untuk produk yang memenuhi ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Sementara itu, produk dalam negeri lainnya dapat memperoleh penggantian biaya investasi hingga 25 persen.
Digitalisasi Rantai Pasok Diperkuat untuk Jaga Ketersediaan Susu
Selain meningkatkan kapasitas produksi, Kemenperin juga mempercepat digitalisasi rantai pasok susu segar nasional. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan efisiensi distribusi dan memastikan ketersediaan pasokan susu secara real time.
Saat ini, sebanyak 96 tempat pengumpulan susu yang berasal dari sembilan koperasi telah terintegrasi dalam program digitalisasi pemerintah. Sistem tersebut memungkinkan pemantauan data pasokan susu secara lebih akurat dan cepat.
Menurut Merrijantij, pemerintah sedang menyiapkan platform digital yang memungkinkan koperasi mengirimkan data produksi secara langsung. Dengan sistem ini, pemerintah dapat memantau kondisi pasokan susu nasional dan mengantisipasi potensi kekurangan bahan baku lebih dini.
Digitalisasi juga dinilai penting untuk memperkuat transparansi rantai pasok serta mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat dalam pengembangan industri susu nasional.
Konsumsi Susu Indonesia Masih Tertinggal dari Negara ASEAN
Di sisi permintaan, Kemenperin menilai konsumsi susu masyarakat Indonesia masih relatif rendah dibandingkan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.
Data World Population Review 2022 menunjukkan konsumsi susu masyarakat Indonesia mencapai 17,76 liter per kapita per tahun. Angka tersebut masih jauh di bawah Malaysia yang mencapai 42,49 liter per kapita, Singapura 46,1 liter per kapita, dan Vietnam sebesar 37,21 liter per kapita per tahun.
Rendahnya tingkat konsumsi susu menjadi tantangan sekaligus peluang bagi industri nasional. Peningkatan akses terhadap produk susu berkualitas diharapkan dapat mendorong perbaikan gizi masyarakat dan memperluas pasar bagi pelaku industri.
Momentum Hari Susu Nusantara 2026 juga dimanfaatkan pemerintah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konsumsi susu sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang.
Penguatan Industri Susu Jadi Bagian Strategi Menuju Indonesia Emas 2045
Kemenperin menegaskan bahwa pengembangan industri susu tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan program MBG. Penguatan sektor ini juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mendukung pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
Ketersediaan susu yang cukup, berkualitas, dan terjangkau dinilai berperan penting dalam meningkatkan status gizi anak-anak serta mendukung lahirnya generasi yang lebih sehat dan produktif.
Dengan kombinasi investasi industri, kemitraan koperasi, digitalisasi rantai pasok, dan peningkatan konsumsi masyarakat, pemerintah optimistis kapasitas produksi susu nasional dapat terus meningkat. Langkah tersebut diharapkan mampu memenuhi kebutuhan program MBG sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan gizi menuju visi Indonesia Emas 2045.
Baca Juga “Pakai Mercy dan Fortuner Pinjaman, Remaja 17 Tahun Tipu Puluhan SPBU di Bogor dan Depok“
